Buletin

Mengikuti Jejak Kepemimpinan Umar Bin Abdul Aziz

Sosok ini telah menorehkan tinta emas dalam sejarah Islam, ia penuhi bumi ini dengan keadilan setelah bumi diliputi dengan kezhaliman. Dia merevolusi kondisi tersebut hanya dalam kurun waktu dua tahun lima bulan. Dia seorang ‘alim yang penuh kesederhanaan dan keistimewaan. Inilah sekelumit dari kisahnya.

 

Biografi

Dialah Umar bin Abdul Aziz cucu Umar bin Khathab. Beliau memiliki nama dan panggilan seperti kakeknya; Umar si Abu Hafs. Saat belia, ia pindah ke Mesir menemani ayahnya menjadi gubernur di sana.

 

Suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz masuk ke kandang kuda. Tanpa diduga, seekor kuda menendang bagian wajahnya hingga meninggalkan bekas. Manakala ayahanda Abdul Aziz bin Marwan melihat, sambil mengusap darah di wajahnya, beliau pun berkata, “Anakku, bila engkau adalah Asyaj Bani Umayyah, maka engkau adalah orang yang berbahagia”1

 

Sejak kejadian itu, Umar pun dijuluki dengan Asyaj, yang berarti “yang terluka diwajahnya”. Di kalangan masyarakat bani Umayyah mereka mengenalnya dengan Asyaj atau Asyaj Bani Umayyah.

 

Umar bin Abdul Aziz dilahirkan di kota Madinah, tepatnya pada tahun 61 H. Ini adalah pendapat yang kuat menurut para ahli sejarah dan senada dengan apa yang dinukilkan oleh Imam Adz-Dzahabi.2

 

Pujian Ulama terhadapnya

Abu Nu’aim berkata, “Dia adalah orang nomor satu dari umatnya dalam hal keutamaan dan paling unggul dari kaum dan kerabatnya dalam hal keadilan. Dia menghimpun zuhud dan kesucian diri, sederhana dan merasa cukup. Dia lebih sibuk dengan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia. Ia menegakkan keadilan dan menahan diri dari kezhaliman”.3

 

Keadilan

Khalifah Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai sosok yang telah benar-benar dapat menegakkan keadilan (selepas khulafaur rasyidun). Tidak ada yang merasa dizhalimi saat beliau berkuasa.

Baca Juga  Manusia Paling Baik adalah Dokter

 

Pada masa awal kekhalifahannya, beliau merasa tertarik mendalami ilmu tentang kepemimpinan, beliau pun mengirimkan sepucuk surat kepada sang Alim, Imam Al-Hasan Al-Bashri, yang kemudian dijawab : “Wahai Amirul Mukminin, seorang pemimpin yang adil seperti seorang bapak yang penuh dengan kasih sayang kepada anak-anaknya, dia melindungi mereka ketika mereka masih kecil, menjaga mereka ketika mereka tumbuh dewasa, bekerja untuk mereka dalam hidupnya dan menyiapkan simpanan untuk mereka setelah kematiannya. Seorang pemimpin wahai Amirul Mukminin seperti seorang ibu yang penuh dengan kasih sayang, lembut dan tulus kepada anak-anaknya, dia mengandung dalam kelelahan, melahirkan dengan susah payah, mendidiknya semasa kecil, bangun pada saat ia bangun, diam saat ia diam, menyusuinya terkadang menyapihnya, berbahagia jika ia sehat, bersedih jika ia sakit. Seorang pemimpin wahai Amirul Mukminin, seperti pengasuh anak yatim dan pengurus orang-orang miskin, mendidik yang masih kecil dari mereka dan mencukupi kebutuhan yang besar di antara mereka. Seorang pemimping wahai Amirul Mukminin, ia bagaikan hati di antara anggota badan, jika hatinya baik maka akan baik seluruh jasadnya dan jika hatinya buruk maka akan buruk seluruh jasadnya”4

(1.Albidayah wan Nihayah, dinukil dari: Fiqih Umar Bin Abdul Aziz hal. 120, 2.Tazkirah Al-Huffazd, 1/118-120, 3.Hilyah Al-Auliya’ wa Thabaqat Al-Ashfiya’. Abu Nu’aim, 5l/254, 4.Umar bin Abdul Aziz. Abdul Sattar Asy-Syaikh, hal. 224)

Setelah membaca surat tersebut, sang khalifah merasa semakin optimis dan harapan cerah mulai terbayang, beliau bangkit dan melangkah, melakukan sekian banyak program yang bermula dari pembenahan terhadap dirinya sendiri. Inilah beberapa hal yang beliau lakukan semasa hidupnya demi tegaknya keadilan :

  1. Mengembalikan setiap hak kepada pemiliknya

Baca Juga  Celupkan Tisu, Lihat Hasilnya..

Dalam hal ini, Umar mulai menerapkan untuk diri dan keluarganya, beliau berkata “Tidak ada yang patut untuk aku awali, selain diriku sendiri”5. Akhirnya saat itu pula, semua harta yang beliau miliki, termasuk harta yang telah diberikan kepada istrinya, beliau kembalikan ke baitul mal.

 

Ibnu Musa berkata “Sejak pertama diangkat menjadi khalifah Umar senantiasa mengembalikan hak-hak rakyat sampai beliau wafat”6

 

  1. Umar mengganti semua Gubernur dan penguasa yang lalim.

Sebelum Umar diangkat menjadi khalifah, cukup merebak kezhaliman yang membuat banyak orang (rakyat) tidak nyaman. Berkat nikmat dan pertolongan Allah, semenjak Umar diangkat menjadi khalifah beliau pun mengganti semua penguasa dan gubernur yang terbukti aktif melakukan kezhaliman.

 

Salah satu contonya adalah kepala pengawal khalifah Sulaiman bin Abdul Malik bernama Khalid Ar-Rayyan yang berbuat zhalim atas perintah Sulaiman. Umar menggantinya dengan seorang yang terkenal wara’ (hati-hati) dan zuhud bernama Amir bin Muhajir Al-Anshari. Beliau tidak ada hubungan kerabat apapun dengan Umar dan dikenal sebagai orang yang shalat di tempat yang tidak dilihat oleh manusia. 8

 

  1. Menghapus kezhaliman yang menimpa mantan hamba sahaya 

Sebagian penguasa masih memperlakukan hamba sahaya yang telah merdeka seperti budak yang belum merdeka. Umar pun datang untuk menghapuskan kezhaliman itu dan menegakkan keadilan bagi mereka.

 

  1. Menghapus kezhaliman terhadap “ahlu dzimmah”

Seperti yang dilakukan kepada para mantan budak, Umar juga melakukannya kepada para Ahlu Dzimmah7. Di beberapa tempat terkadang ahlu dzimmah harus membayar lebih dari kadar yang telah ditentukan oleh pemerintah, maka khalifah Umar pun menyamakannya demi keadilan.

Baca Juga  Antara Busur dan Anak Panah

 

Wafat

Sebelum wafat, Umar memanggil anak-anaknya dan mewasiatkan sebuah nasihat untuk mereka “Anak-anakku, sesungguhnya aku telah meninggalkan (menitipkan) untuk kalian beramal kebaikan yang banyak. Kalian tidak melewati salah seorang dari kaum muslimin dan ahli dzimmah kecuali mereka melihat bahwa kalian mempunyai hak (tanggung jawab yang harus ditunaikan) pada mereka. Anak-anakku, sesungguhnya aku dihadapkan pada dua pilihan, kalian kaya dan aku masuk neraka atau kalian miskin dan aku masuk syurga. Maka aku melihat yang kedua lebih baik bagiku, berdirilah kalian, semoga Allah melimpahkan rizki kepada kalian”

 

Nasihat seorang bapak bagi anak-anaknya dan seorang khalifah bagi kaumnya itu sangat mengena di hati mereka. Setelah 20 hari melalui masa sakit, akhirnya khalifah pergi menghadap Rabbnya. Tepatnya pada hari Jum’at tanggal 10 Rajab 101 H. Allah memanggilnya saat umurnya menginjak 40 tahun.

 

Sepenggal cerita ini tak sanggup memaparkan seluruh perjalanan hidup beliau yang menakjubkan, kisah-kisah yang mengharukan dan penuh dengan keteladanan, cerita kelembutan dan kemurahan hati yang diiringi dengan ketegasan, baik sebagai seorang pribadi Muslim, kepala rumah tangga dan sebagai kepala negara yang tercatat indah dalam sejarah.

(5.Ath- Thabaqat, Ibnu Sa’ad 5/347, 6.Ath- Thabaqat, Ibnu Sa’ad 5/341, 7.Ahlu Dzimmah: adalah orang-orang kafir yang mempunyai perjanjian damai dengan kaum muslimin dan diwajibkan untuk membayar jizyah (upeti). Ahlu dzimmah disebut juga dengan kafir dzimmi.)

Oleh: Hamdani Aboe Syuja’.