Buletin

AL-WAHN… (Cinta Dunia dan Takut Mati)

Saudaraku… sebelum pembahasan kita beranjak lebih lanjut, mari kita simak sebuah hadist dari sahabat Tsauban -radhiallahu ‘anhu- ia berkata, Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- bersabda “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, -pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimnan mereka bekumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seorang bertanya, “Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?”. Rasulullah bersabda, “Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ‘(penyakit) Wahn’”. Kemudian seseorang bertanya, “apa itu Wahn?”. Rasulullah bersabda, “Cinta dunia dan takut mati”. (HR. Abu Dawud no. 4297 dan Ahmad 5 : 278. Shahih kata Syaikh Al-Albani. Lihat penjelasan hadits ini dalam ‘Aunul Ma’bud).

 

Al-Wahn, bagaikan sebuah virus yang menyerang hati seseorang. Sebuah penyakit hati yang jauh lebih dahsyat dan mematikan dibandingkan TBC, stroke, flu burung bahkan kanker sekalipun. Sebuah penyakit yang dapat membunuh siapa saja, kapan saja, dimanapun dia berada karena ia dapat menghancurkan dunia dan akhirat seseorang.

 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Jika segumpal daging (hati )itu baik maka baiklah seluruh tubuh ini, dan jika segumpal  daging (hati) itu rusak maka rusaklah seluruh tubuh ini”. (HR al-Bukhari dan Muslim)

 

Penyakit Mematikan Penghancur Umat

“Cinta Dunia dan Takut Mati”, sebuah penyakit hati yang timbul karena sikap cinta yang berlebihan terhadap dunia telah menyusup ke dalam hati manusia. Sikap yang mendorong seseorang untuk berlomba meraih kebahagiaan yang bersifat fana, seperti cinta harta, benda, tahta, wanita dan lainnya. Dari kecintaan yang berlebih itulah akan timbul rasa kurang puasnya dalam kehidupan ini dan takut mati.

 

Baca Juga  Nina Bobo…

Pada dasarnya manusia ingin hidup kaya, berpangkat tinggi, punya pengaruh yang besar, terkenal dimana-mana dan mempunyai pasangan yang sempurna. Lalu, manakala seorang manusia telah mencapai keinginan dunianya maka aturan-aturan Allah diabaikan begitu saja dalam mengatur dan mengendalikan kekayaan dunianya.

 

Sifat seperti ini sama sekali tidak dibolehkan oleh Islam, bahkan sifat ini adalah musuh Islam yang paling nyata. Sifat ini juga merupakan warisan dari iblis -la’natullahi ‘alaihi-, yang memang keberadaanya di dunia hanya untuk menggoda manusia agar mereka keluar dari jalan-Nya yang benar, sehingga pada akhirnya kelak mereka menjadi penghuni neraka menemani iblis.

 

Mereka yang sudah terjangikiti penyakit ini sebenarnya hanya ingin memuaskan hawa nafsunya demi mendapatkan kebahagiaan yang bersifat sementara.

 

Misalnya seorang konglomerat membeli sebuah kasur mewah berkualitas tinggi, dia tidak akan bahagia jika dia menemui orang yang mampu membeli kasur yang lebih mahal dan lebih wah kualitasnya. Berbeda dengan si Miskin yang hanya membeli kasur kapuk nan berbulu namun dia merasa bahagia yang sangat karena sekarang dia bis tidur diatas bantalan yang empuk.

 

Maka nikmatilah kebahagiaan dari setiap usaha yang kita lakukan, karena sesungguhnya penyakit ‘Wahn’ ini dipicu oleh rasa tak pernah merasa puas menikmati sebuah kebahagiaan yang ada.

 

Baca Juga  Awali Semuanya dengan Cinta

Harta dan kekayaan telah tergariskan dalam lembar-lembar takdir yang sudah diatur dengan begitu sempurnanya oleh Allah untuk para hamba-Nya. Hewan yang tak berdayapun Allah sudah atur rizkinya. Apalagi manusia yang Allah telah siapkan surga atau neraka sebagai tempat kembali bagi mereka dan menyiapkan dunia sebagai tempat ujian mereka. Jadi buat apa takut miskin harta jika semua orang sudah ditetapkan oleh Allah jalan rizkinya.

 

Begitu pula kematian. Kematian sudah tersusun rapi dalam daftar takdir. Betapa banyak orang yang mati tanpa sebab yang jelas? Seorang pemain bola, seseorang yang sedang bercanda ria dengan temannya tiba-tiba mereka meninggal begitu saja tanpa sebab yang kita ketahui. Itu karena Malaikat Maut tinggal menunggu kapan datang giliran kematian yang sudah ditetapkan untuk kita. Hari, jam, menit bahkan detikpun tidak akan meleset dari takdir Allah yang nyata adanya

 

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Dan setiap umat mempunyai ajal, maka apabila telah datang ajal tersebut maka mereka tidak akan bisa meminta diakhirkan maupun meminta diajukan walau sesaat.” (QS. Al A’raf: 34)

 

Membasmi Penyakit Wahn

 

Sebagai muslim yang sejati, tentunya kita wajib menjaga diri dari penyakit-penyakit hati apapun bentuknya. Salah satunya adalah ‘Wahn’ yang harus kita kikis habis dan kita basmi dari hati ini. Berikut adalah beberapa kiat-kiat membasmi penyakit wahn :

  1. Bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa dan tingkatkan keimanan kepada Allah –Subhaanahu Wa Ta’ala- dan hari akhir. Dengan taqwa, Allah akan memberikan kita jalan keluar dan rizki yang tak disangka-sangka.
  2. Perdalami dan pahami Agama Islam yang Haq, genggam erat aqidah yang merupakan inti Agama Islam. Semakin banyak ilmu agama yang dimilik dan dipahami oleh seseorang maka semakin kokoh pula ia dalam keimanannya.
  3. Gapailah kenikmatan di dunia sekedarnya saja. Sesungguhnya Islam tidak mengharamkan dunia dan perhiasannya akan tetapi menjadikannya sebagai alat untuk mencapai kehidupan dan kebahagiaan akhirat.
  4. Tingkatkan ibadah dan dekatkan diri kepada Allah –Subhaanahu Wa Ta’ala-. Dengan demikian rasa tenang dan sifat qona’ahnya akan muncul dan menjadi citra diri dan perangainya.
  5. Selalu ingat bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara dan tujuan kita hanyalah surga.
  6. Berjihad mempertahankan keimanan, bertekad meluruskan ikhlas. Ingatlah di hari dimana tidak ada gunanya harta dan keturunan kecuali yang datan g dengan hati yang salim nan lurus.

 

Baca Juga  Manusia Paling Baik adalah Dokter

Penutup

Penyakit ‘Wahn’ nampaknya tidak berpengaruh bagi keimanan kita jika kita mengimani dan memahami takdi-takdir Allah dengan benar. Karena semua yang kita miliki dan yang kita alami baik itu harta maupun kematian adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Kebahagiaan yang hakiki bukanlah saat ini dunia hanya tempat persinggahan kita untuk menuju akhirat nanti, jangan jadikan dunia ini sebagai tujuan utama, karena tujuan kita hanyalah surga. Semoga kita menjadi hamba Allah yang terselamatkan dari penyakit mematikan ini dan datang kepada Allah dengan hati yang bersih nan suci.

Oleh: Ustadz Hafidz Jarullah