Fiqih For Teen Hamdani Aboe Syuja’

Puasa Syawal Sama Dengan Puasa Setahun

Ramadhan telah usai, tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Semoga Ramadhan ini bukan ramadhan yang terakhir bagi kita. Dan semoga amal ibadah kita dibulan Ramadhan ini diterima disisi Allah. Amiin.

Banyak keutamaan yang Allah lipat gandakan dalam bulan Ramadhan, mulai dari pahala bacaan al-Quran, dibelenggu syeitan-syeitan, dibukakan pintu-pintu syurga dan ditutup pintu-pintu neraka, serta didalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Tak terkecuali kebaikan-kebaikan lainnya yang terdapat didalamnya.

Namun, bukan berarti dengan berlalunya Ramadhan, maka segala ganjaran dan kebaikan-kebaikan tersebut juga berlalu dan tidak kita dapatkan lagi. Tidak!.

Nah, ini buktinya. Ramadhan usai, memasuki bulan syawal. Ada sebuah sunnah yang sangat ditekankan dalam islam, yaitu puasa syawal. Perhatikan petikan berikut sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).

Sobat muda, siapa sanggup puasa selama satu tahun? Sangat jarang bahkan mustahil, tapi disini islam menawarkan alternative untuk kita agar bisa mendapatkan pahala tersebut tanpa harus melakukan puasa selama satu tahun. Yah, puasa 6 hari di Bulan Syawal.

Baca Juga  I’TIKAF, Ibadah 10 Hari akhir Ramadhan

Telusuri Sunnahnya

Ok sob, setelah kita ketahui betapa ganjaran puasa syawal begitu besar, tentu kita pun ingin sekali untuk melaksanakannya, bukan?. Nah, bagi sobat yang sudah, sedang atau akan melaksanakannya puasa syawal perlu sobat perhatikan beberapa hal berikut mengenai tatacara puasa syawal,

  1. Puasa syawal boleh dilaksanakan mulai pada hari kedua setelah lebaran, ini lebih utama, namun boleh juga pada hari-hari yang lain selama masih dibulan syawal

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah dalam kitabnya Syarhul Mumti’, jilid 6, halaman 465 berkata, “Para fuqoha berkata bahwa yang lebih utama, enam hari di atas dilakukan setelah Idul Fithri (1 Syawal) secara langsung. Ini menunjukkan bersegera dalam melakukan kebaikan.”

  1. Puasa syawal dilaksanakan selama 6 hari.

Hal ini meruju’ pada sabda Nabi diatas, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berkata mengenai hadits tersebut, “Yang disunnahkan adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal.” (Lihat: Syarhul Mumti’, 6/464).

  1. Boleh selang-seling harinya jika ada udzur, namun lebih utama jika dilaksanakan berurutan

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin juga berkata dalam Kitabnya Syarhul Mumti’ 6/465, “Lebih utama puasa Syawal dilakukan secara berurutan karena itulah yang umumnya lebih mudah. Itu pun tanda berlomba-lomba dalam hal yang diperintahkan.”

  1. Diutamakan untuk menqadho’ puasa Ramadhan sebelum puasa syawal
Baca Juga  Selfie Jalan Menuju Syirik Kecil

Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin mengatakan, “Setiap orang perlu memerhatikan bahwa keutamaan puasa Syawal ini tidak bisa diperoleh kecuali jika puasa Ramadan telah dilaksanakan semuanya. Oleh karena itu, jika seseorang memiliki tanggungan qadha Ramadan, hendaknya dia bayar dulu qadha Ramadan-nya, baru kemudian melaksanakan puasa 6 hari di bulan Syawal. Jika dia berpuasa Syawal sementara belum meng-qadha utang puasa Ramadhan-nya maka dia tidak mendapatkan pahala keutamaan puasa Syawal, tanpa memandang perbedaan pendapat, apakah puasanya sebelum qadha itu sah ataukah tidak sah.

Alasannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian dia ikuti dengan …” sementara orang yang punya kewajiban qadha puasa Ramadan baru berpuasa di sebagian Ramadan dan belum dianggap telah berpuasa Ramadan (penuh).

Boleh melaksanakan puasa sunah secara berurutan atau terpisah-pisah. Namun, mengerjakannya dengan berurutan, itu lebih utama karena menunjukkan sikap bersegera dalam melaksanakan kebaikan, dan tidak menunda-nunda amal yang bisa menyebabkan tidak jadi beramal.” (Fatawa Ibni Utsaimin, kitab “Ad-Da’wah“, 1:52–53)

  1. Tidak boleh puasa bagi yang haid dan yang berhadats besar, layaknya puasa Ramadhan.
Baca Juga  Antara Busur dan Anak Panah

Sobat muda….

Semua kita tentu ingin mendapatkan kebaikan sebanyak-banyaknya, baik itu dibulan Ramadhan maupun setelah bulan Ramadhan terlewat. Karena kebaikan tidak hanya terletak pada bulan Ramadhan saja. Puasa tidak hanya pada bulan Ramadhan saja. Baca al-Quran tidak hanya pada bulan Ramadhan saja. Bersedekah, membantu orang yang kesulitan, dan amalan-amalan kebaikan lainnya tidak akan berhenti dengan berlalunya bulan Ramadhan.

 

Orang yang bijak adalah yang bisa membawa suasana Ramadhan diluar bulan Ramadhan. Sikap dan sifatnya dibulan ramadhan menjadi sikapnya diluar ramadhan. Perubahan menuju kebaikan selalu ia tampakkan. Bukan malah sebaliknya, dengan berlalunya Ramadhan berlalu pula kebaikan Ramadhannya.

Puasa Syawal merupakan sunnah yang sangat ditekankan dalam perspektif syariat islam. Siapa yang tidak mau mendapatkan pahala layaknya puasa selama satu tahun?, orang normal pasti akan menginginkannya. Setiap kita menginginkan kebaikan yang banyak, untuk persiapan akhirat kita, bukankah begitu?, dan kesempatan saat ini belum tentu kita dapatkan pada tahun mendatang. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.

Wallahu a’la wa a’lam wa a’azza wa ahkam.

 

Cikarang, 15-Juni-2015

 

About the author

Salamuna.id

Salamuna.id adalah portal media bagi para Mahasiswa Muslim Indonesia yang sedang menempuh pendidikannya di berbagai negara.

Add Comment

Click here to post a comment