Fiqih For Teen Hamdani Aboe Syuja’

Petuah Mudik

Sobat muda, by the way Sebentar lagi kan libur ramadhan. Nah, biasanya ada satu tradisi yang sudah sangat sakral di telinga masyarakat Indonesia. Bahkan sampai manca Negara..

Mudik”…

Yap, kata mudik sering dipake dizaman sekarang yang dalam artian berpergian jauh atau pulang kampung halaman. So, sobat kudu tahu bahwa dalam bahasa arab pun ada istilah mudik yang dikenal dengan kata “safar”, adapun orang yang melakukannya disebut dengan “musafir”..

 

Arti Kata

Mudik ato safar dalam istilah syariat islam bermakna melakukan sebuah perjalanan jauh dalam rangka tidak bermaksiat kepada Allah[2]

Nah, adapun jika seseorang melakukan sebuah perjalan sejauh apapun dan dalam rangka untuk bermaksiat ini juga termasuk safar, akan tetapi safar yang seperti ini adalah safar yang tidak diridhoi oleh Allah. Maka, sebelum melakukan mudik, sobat kudu tahu untuk apa kita melakukan safar?

 

Mainkan adabnya

Layaknya kita sebagai muslim yang selalu taat kepada agamanya, bahwa dalam setiap kegiatan sehari-hari yang kita lakukan memiliki adab dan kewajiban, begitu pula dengan safar atau mudik yang akan sebagian besar kita lakukan nanti. Maka berikut akan kami paparkan beberapa adab ato pedoman disaat mudik:[3]

  1. Sholat istikharah sebelum mudik

Sholat istikharah diperintah untuk kita lakukan pada setiap kali menemui dua pilihan yang masi ragu. Maka shalat istikharah adalah solusinya, seperti yang diajarkan oleh Raslullah, yaitu dengan sholat dua rakaat dan kemudian membaca doa berikut in,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي -أَوْ قَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ- فَاقْدُرْهُ لِي وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي -أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ- فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ

Ya Allah, sungguh aku meminta pilihan dengan ilmu-Mu, meminta ketentuan dengan takdir-Mu, aku meminta karunia-Mu yang besar. Sesungguhnya Engkau Maha berkuasa, sedangkan aku tidak berkuasa. Engkau mengetahui dan aku tidak mengetahui. Engkau Maha Mengetahui perkara ghaib. Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa urusanku ini (sebutkan urusan anda) lebih baik bagiku, agamaku, hidupku, dan akhir urusanku, maka berilah aku kemampuan untuk melakukannya. Mudahkanlah urusanku dan berilah aku barakah padanya. Namun jika Engkau tahu bahwa urusanku ini (sebutkan urusan anda) jelek bagiku dalam hal agama, kehidupan, dan akhir urusanku, maka palingkanlah urusan itu dariku. Palingkanlah aku dari urusan itu. Tentukanlah kebaikan itu untukku di manapun dia, dan jadikanlah aku ridha dengannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6382)

  1. Larangan untuk safar sendirian
Baca Juga  Birthday In Islam

Melakkan safar sendiri merupakan perkara yang dilarang dalam syariat islam. Hukmnya adalah makruh. Dalam sebuah hadist Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- yang diriwayatkan melalui jalur Abdullah ibnu Umar –radhiallahu ‘anhu- beliau bersabda,

Satu pengendara (musafir) adalah syaithan, dua pengendara (musafir) adalah dua syaithan, dan tiga pengendara (musafir) itu baru disebut rombongan musafir.” (HR. Abu Dawud)

Namun, perlu diperhatikan bahwa yang dimaksud dengan syaithan disini ketika melakukan safar kurang dari tiga orang biasanya suka membelot. Karena merasa tidak ada yang mengawasinya dan syaithan pun sangat kuat dalam hal ini. Namun, larangan ini bersifat makruh tidak termasuk dalam katagori haram.

 

  1. Memilih salah satu ketua saat bersafar

Konsep ini bias kita terapkan dalam situasi dan kondisi apapun, yaitu memilih salah satu ketua disaat kita tergabng didalam keangotaan yang lebih dari tiga orang, agar maksud dari kelompok atau tujuan bergabungnya anggota ini jelas dan ada seorang yang memutuskan dan menunjuk jalan.

Begitu pula disaat kita sedang melakukan mudik, pilihlah salah satu ketua yang mana ia memiliki sifat lebih bijaksana dan berwatak serta lebih bersikap dewasa dari yang lain, agar ketika ia mengarahkan tidak ada yang berani membantah. Karena sudah barang tentu disaat kita melakukan safar kita akan bermusyawarah dengan sesame anggota. Inilah gunanya pemimpin. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,Jika ada 3 orang yang mengadakan perjalanan maka hendaknya mereka menjadikan salah seorang dari mereka sebagai pemimpin.” (HR. Abu Dawud)

 

  1. Disunnahkan taudi’ (melepaskan keluarga yang ditinggal dengan doa)
Baca Juga  Amalan agung di Bulan Ramadhan

Berdoa saat melepas kepergian untuk safar adalah termasuk salah satu dari sunnah Nabi disaat bepergian. Dan dianjurkan bagi seorang musafir untuk berpamitan kepada keluarga yang ditinggalkan serta meminta sedikikit nasehat serta petuah dari mereka. Berikut doa yang biasa dibaca oleh Nabi bagi orang yang akan safar,

أَسْتَوْدِعُ الله دِيْنَكَ، وَأَمَانَتَكَ، وَخَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ

Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan perbuatan terakhirmu kepada”

Adapun bagi musafir untuk mengucapkan,

أَسْتَوْدِعُكُمُ اللَّهَ الَّذِى لاَ تَضِيعُ وَدَائِعُهُ

AllahAku menitipkan kalian pada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipannya”

 

  1. Wanita safar tanpa mahram!!

Ok, guys. Jadi ini juga masalah penting yang harus diperhatikan oleh setiap muslimah dibumi ini, bahwa tidak boleh seorang wanita melakukan,

 “Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk safar sejauh perjalanan sehari semalam kecuali bersama mahramnya” (HR. Muttafaqun ‘alaihi)

Perintah ini ditujukan bagi semua wanita muslim. Adapun yang dimaksud dengan mahram disini adalah ayahnya, abangnya, adik-adiknya, dan semua mahramnya.

Namun yang sangat disayangkan apa yang terjadi di zaman ini adalah para wanita tidak lagi mengindahkan perintah Nabi diatas, akibatnya banyak terjadi pelecehan-pelcehan terhadap kaum wanita. Wal’iyaadhubillah

 

  1. Bertakbir saat mendaki dan bertasbih saat menurun

Diantara perintah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- saat bersafar adalah agar seseorang mengucakan اللهُ أكْبَر saat jalan menaik dan mengucapkan سُبْحَانَ الله  saat jalan menurun

 

  1. Membaca doa disaa sampai di suatu daerah

Yaitu dengan membaca doa,

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Aku berlindung dengan Kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa-apa yang telah Dia ciptakan” (HR. Muslim no. 2708)

Faedah membaca doa ini seperti yang tertera dilanjutan hadits diatas adalah tidak akan membahayakannya dengan sesuatu apapun sampai ia beranjak dari tempat tersebut.

Baca Juga  Met Lebaran

 

Rukhsah sholat = KM?

Rukhshah atau keringanan bagi orang yang safar adalah disaat seorang musafir tersebut sedang dalam safar, yaitu rukhshah dalam hal ibadah. Seorang musafir dibolehkan untuk melakukan jama’ dan qashar didalam pelaksanaan shalat. Seorang musafir juga dibolehkan untuk tidak berpuasa dan menqadhanya dikemudian hari, dll.

Nah, sekarang pertanyaannya, berapa jauhkah jarak yang disebut dengan safar sehingga bisa mendapat rukshah tersebut?

Para ulama, baik ulama klasik ataupun ulama kontemporer berbeda pendapat dalam hal ini. Mayoritas ulama berpendapat bahwa bolehnya menqashar shalat dalam safar jika jarak tempuh safar mencapai 48 mil atau sama dengan 85 km. Pendapat yang lain mengatakan 3 hari 3 malam dan ada pula yang mengatakan 1 hari satu malam, dll.

Namun, pendapat yang kuat adalah tidak ada batasan tertentu dalam hal mengqashr shalat saat safar, karena tidak ada dalil nash asli yang menunjukkan tentang hal tersbut. Hal ini seperti yang disebutkan oleh Ibnu Qudamah dan pendapat ini pula dikuatkan oleh ulama kontemporer seperti Syaikh Ibnu Utsaimin dan Syikh Muqbl bin Hadi Al-Wadi’i[4]

 

And Then?

Ada salah kaprah dengan pemikiran sebagian kita yang beranggapan bahwa mudik itu enak, atau malah dijadikan tempat bersuka ria dan melampiaskan segala kesengannya disaat mudik. Padahal mereka nggak tahu bahwa mudik adalah sebagian dari azab Allah –subhanahu wata’ala-, sebagaimana yang telah disitir dalam sebuah sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-,

Safar itu bagian dari azab (melelahkan), menghalangi salah seorang di antara kalian dari makan, minum, dan tidurnya. Maka apabila salah seorang di antara kalian telah menyelesaikan urusannya, bersegeralah pulang menemui keluarganya.” (Muttafaq ‘alaih). Semoga bermanfaat!!

 

[1] Majalah elfata, edisi  Vol. Tahun 2014

[2] Lihat: Syarhul Mumti’, jilid 2/192 Karya Syaikh Ibnu Utsaimin

[3] Bebepapa point dibawah diatas disarikan dari kitab Mausuu’atul adabil islamiyyah, karya Syaikh ‘Abdul Aziz bin Sayyid Nada

[4] Lihat: Syarhul Mumti’, jilid 2/193 Karya Syaikh Ibnu Utsaimin

About the author

Salamuna.id

Salamuna.id adalah portal media bagi para Mahasiswa Muslim Indonesia yang sedang menempuh pendidikannya di berbagai negara.

Add Comment

Click here to post a comment