Abu Uyainah As-Sahaby Resonansi Ruang Sakinah

Mimpi Yang Menyapa

Saat kedua kaki sudah mantap melangkah, demi mencari cinta yang entah dimana dia berada. Di saat itu terkadang jiwa mengandai-ngandai, berkhayal terlalu tinggi, bahkan angan-angan itu terbawa sampai mimpi. Tidak pelak jiwa merasa bahagia ketika bermimpi bertemu dengan sosok gadis cantik yang entah siapa dia, siapa namanya, dimana ia berada, tak dipedulikan, yang terpenting jiwa merasa sangat bahagia bertemu gadis itu meski hanya dalam mimpi. Meski tidak akan lama dia pergi. Meski mimpinya tak akan terulang dua kali. Baginya bertemu dalam mimpi sudah mampu membuatnya bahagia untuk sementara.

Inilah yang pernah ku rasakan juga, ketika langkah kedua kakiku ini sudah mantap mencari sosok sang bidadari dunia. Entah dia siapa, dimana keberadaanya, aku sendiri tidak tahu, dia datang dalam mimpiku.Padahal sebelumnya aku tidak pernah berkhayal tentang seorang pun wanita agar Allah menjodohkannya denganku. Aku hanya yakini saja, cinta itu jika sudah datang waktu untuk mencarinya, dia akan datang juga. Namun mimpi tentang seorang gadis itu masih teringat olehku, seketika setelah aku tersadar, aku tuliskan mimpiku itu dalam sebuah kata-kata, semoga dia benar-benar nyata.

 

Siapakah dia, gadis cantik jelita…

Yang datang dalam mimpiku tanpa aku minta…

Wajah anggunnya masih tersimpan…

Senyumnya mampu mendenyutkan…

Kehadirannya membuat jantungku…

Berdebar-debar tak menentu…

Apa mungkin dia jodohku…

Yang datang dalam mimpiku sebelum sadarku…

Aku benar-benar dibuat kagum olehnya…

Kedua mataku begitu terikat pada sosoknya…

Aku bingung harus berbuat apa…

Karena hal ini hanya dalam mimpi saja…

Mungkinkah dia bidadari yang aku cari…

Aku berdoa untuknya ditemani malam yang sunyi…

Oh Tuhan, tolong aku…

Yang tak kuasa menahan perasaan tak menentu…

Apa yang harus aku perbuat…

Ketika hatiku telah dibuatnya terpikat…

Hembusan angin segar pun datang…

Menerpaku dan hampir menerbangkan…

Andai aku tidak terdiam seperti bebatuan…

Mungkin aku sudah diterbangkan dan menghilang…

Oh Tuhan, bantu aku bangkit…

Agar keteguhan mencari cinta ini sekuat bukit…

Tak apa aku diterbangkan angin demi mencari cinta…

Baca Juga  Bismillah, Aku Langkahkan Kakiku ini Untuk Menikah

Asalkan sosok gadis dalam mimpiku itu aku temukan juga…

 

Aku pun masih belum bisa pahami, bagaimana sosok gadis anggun nan cantik ini bisa datang dalam mimpiku tanpa aku sadari. Tanpa aku berkhayal sebelumnya, meski setiap di kesunyian malam aku selalu berdoa semoga bertemu sosok cantik yang anggun jelita.Akan tetapi begitulah ketika Allah telah menuliskan sekenario kehidupan kita. Sesuatu yang tidak disangka-sangka, dia akan terjadi juga. Aku jadi teringat dengan kisah Nabi Muhammad yg melihat sosok Aisyah di dalam mimpinya sebelum Allah memperkenalkannya dengan beliau, sebelum beliau menikahi Aisyah bahkan sebelum Rasulullah melihatnya.Kejadian ini terjadi ketika Rasulullah telah lama ditinggal pergi Ibunda Khodijah.Kesepian yg menyelimuti dada telah membuat beliau merasa sangat kehilangan hingga Allah mencarikan pasangan untuk beliau, dan sosok Aisyah yang menjadi pilihan Allah untuk menemani beliau. Adapun hadits tentang mimpi Rasulullah melihat Aisyah adalah sebagai berikut;

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam al-Bukhori, Imam Muslim dari Aisyah bahwa pernah berkata; “Rasulullah bersabda kepadaku; “Sebelum aku menikah denganmu, aku bermimpi melihatmu dua kali, ‘dalam riwayat yang lain tiga kali’. Dalam mimpiku tersebut, malaikat datang kepadaku dengan secarik kain sutra (maksud malaikat memperlihatkan gambar Aisyah kepada beliau) lalu berkata; “Ini istrimu.”Aku membuka wajahmu ternyata engkau.Aku berkata, “Jika mimpi tersebut berasal dari Allah, pasti Allah akan mewujudkannya.”As-Suhaili berkata, “Itu tidak diragukan karena mimpi seluruh Nabi adalah wahyu.”Dalam hadits yang diriwayatkan at-Tirmidzi Aisyah berkata, “Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah dengan membawa secarik kain sutra yang berwarna hijau, lalu Jibril berkata; “Ini Istrimu di dunia dan di akherat.”

Ibnu Abu Syaibah meriwayatkan dari Aisyah bahwa ia berkata, “Ada satu sifat pada diriku yang tidak dimiliki seorang pun dari seluruh wanita kecuali apa yang diberikan Allah kepada Maryam binti Imran. Aku tidak mengatakan hal ini karena sombong.” Lalu Aisyah di tanya, “Sifat apakah itu?” diriwayat yang lain disebutkan Abdullah bin Shofwan berkata, “Sifat apakah itu?” Aisyah menjawab, “Malaikat turun membawa gambarku.”

Baca Juga  Teringat Olehku Waktu Itu

Ibunda Khodijah merupakan salah satu anugerah yang Allah berikan untuk beliau.Bunda khodijah menemani beliau hampir seperempat abat, menyayangi beliau dikala resah, melindungi beliau disaat-saat yang kritis, serta menolong beliau dalam menyerbarkan risalah dakwah, turut mendampingi beliau menjalankan perjuangan yang berat, lalu Khodijah pun menyerahkan diri dan seluruh hartanya kepada beliau.Bahkan Rasulullah pernah bersabda tentangnya, “Dia beriman kepadaku ketika manusia bersikap ingkar dia membenarkan aku ketika manusia mendustakanku, dia menyerahkan hartanya ketika manusia manusia tidak mau memberikannya.Allah menganugerahi aku anak dari dirinya ketika perempuan selain dirinya tidak memberikannya padaku.”[1]

Di dalam ash-Shohih, dari Abu Hurairah dia berkata, “Jibril mendatangi Nabi dan dia berkata, “Ini adalah Khodijah yang datang sambil membawa bejana, di dalamnya ada lauk pauk, ada makanan dan minuman, bila nanti menemuimu. Sampaikan salam kepadanya dari Rabb-Nya dan sampaikan kabar kepadanya tentang sebuah rumah di Surga, yang di dalamnya tidak ada kebisingan maupun rasa lelah di dalamnya.”

Meninggalnya Ibunda Khodijah setelah dua bulan atau tiga bulan setelah wafatnya sang paman tercinta Abu Tholib. Ummul Mukminin, sang kekasih tercinta baginda Rasulullah ini meninggal pada bulan Ramadhan tahun kesepuluh kenabian. Saat wafat usianya enam puluh lima tahun. Dan pada bulan Syawal di tahun yang sama, Rasulullah menikah dengan Saudah sebelum menikah dengan Aisyah. Lalu setelah beberapa tahun berselang, Saudah menghadiahkan bagiannya, giliran bermalam kepada Aisyah. Adapun Rasulullah menikahi Aisyah pada bulan Syawwal pada tahun kesebelas kenabian, di saat itu umur Aisyah masih enam tahun kemudian membina rumah tangga (hidup dalam hubungan suami-istri) di kota Madinah pada bulan Syawwal tahun pertama Hijriyah, saat itu umur Aisyah sudah Sembilan tahun. Dan hanya Aisyah satu-satunya gadis perawan yang dinikahi Rasulullah.Sosok Aisyah adalah seorang wanita yang paling beliau cintai dan merupakan perempuan yang paling faqih dan yang paling berilmu diantara perempuan-perempuan umat Islam.

Sosok Ibunda Khodijah yang sangat dicintai Rasulullah mampu membuat hati Aisyah cemburu dan inilah diantara tanda bahwa Ibunda Khodijah, meski sosoknya telah tiada, tapi Rasulullah tetap mencintainya bahkan menyebut-nyebut namanya. Sebagaimana di hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad dengan sanadnya yang baik dari Aisyah bahwa dia berkata, “Jika nama Khodijah disebutkan di hadapan Rasulullah, beliau menyanjungnya dan sanjungan untuknya itu sangat baik. Pada suatu hari aku cemburu, kemudian aku berkata, “Betapa seringnya engkau menyebutkan wanita yang sisi mulutnya merah (kiasan dari sang wanita tua)padahal Allah telah memberikan ganti yang lebih baik kepadamu dari pada dia lalu Rasulullah pun menjawab, “Allah tidak memberi ganti untuk aku dengan wanita yang lebih baik dari pada dia. Sungguh dia beriman ketika orang-orang kafir kepadaku, dia yang membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, membantuku dengan seluruh harta yang dimilikinya ketika tidak seorang pun memberikan sesuatu apa pun padaku dan Allah memberiku anak-anak darinya ketika isti-istriku yang lain tidak memberikan anak.”

Baca Juga  Jangan Salahkan Aku Yang Mencintaimu, Salahkan Dirimu Yang Telah Membuatku Jatuh Cinta

Kecintaan Rasulullah untuk Ibunda Khodijah juga diungkapkan dengan menghargai dan menghormati orang-orang terdekat yang dulu mencintai Khodijah. Dari Anas bin Malik pernah berkata, “Jika Rasulullah diberi sesuatu, beliau berkata; “Antarkan ini kepada wanita si Fulanah, karena dia dulu teman Khodijah.” Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Hibban, Rasulullah berkata, “Antarkan ini kepada wanita si Fulanah, karena dulu dia pun mencintai Khodijah.”Aisyah juga berkata, “Salah seorang wanita tua datang kepada Rasulullah, lalu si wanita itu disambut oleh beliau dengan senang hati dan juga dimuliakannya.”Dalam hadits lainnya disebutkan, “Salah seorang wanita tua datang kepada Rasulullah, lalu si wanita itu disambut oleh beliau dengan senang hati, kemudian beliau bertanya, “Siapakah engkau?”Wanita tua tersebut menjawab, “Aku Jatstsamah al-Muzaniyah.”Lalu Rasulullah berkata, “Tidak, namun engkau adalah Hassanah al-Muzaniyah.Bagaimana kabarmu?Bagaimana engkau sepeninggalku? Wanita tua tersebut menjawab, “Baik-baik saja Rasulullah, Ayah &Ibuku menjadi tebusan.” (lihat buku Istri-Istri Para Nabi. Karya Ahmad Khalil Jam’ah Syaikh Muhammad bin Yusuf ad-Dimasyqi. Halaman 320-322. Darul Falah-Jakarta, Cetakan Ke-6 2010)

[1] Sirah Nabawiyah, karya Shafiyurrahman al-Mubarakfuri. Hal 79, Geman Insani-Jakarta.