Fiqih For Teen Hamdani Aboe Syuja’

I’TIKAF, Ibadah 10 Hari akhir Ramadhan

Sobat muda, Ramadhan bulan keberkahan akan kembali menyapa kita. Apa yang telah kita siapakan untuk tamu yang special ini? Welcome to ramadhan…

 

Yup, sobat fata yang berbahagia…

Bulan Ramadhan yang digambarkan dengan seribu satu keberkahan didalamnya, didalamnya memiliki satu amalan yang tak kalah penting dari amalan-amalan yang lain, bahkan bisa dikataan ini adalah inti dari bulan Ramadhan..

 

“I’TIKAF”…

Bukti disyariatkan I’tikaf adalah hadits Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha berikut ini, sekaligus hadits ini juga menunjukkan betapa  ibadah ini sangat ditekankan pada 10 akhir bulan Ramadhan,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَى لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata : “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam apabila memasuki sepuluh hari (sepuluh hari akhir Ramadhan) ,menguatkan ikat pingganng,menghidupkan malamnya (dengan ibadah-ibadah) dan membangunkan keluarganya” (Shahih. HR. Muttafaqun Alaih)

Oke Guys, Sebelum penulis melanjutkan pembahasan kita, ada beberapa pertanyaan yang harus sobat jawab terlebih dahulu..

Pernahkah sobat melakukan I’tikaf? Berapa kali?

Sudahkah sobat mengetahui apa saja yang harus dilakukan selama I’tikaf?

Atau apa sih artinya I’tikaf?

Nah, jika jawabannya iya, namun belum mengetahui substansi I’tikaf secara menyeluruh atau memang belum pernah melakukan I’tikaf, lanjutkan bacaannya… Semoga Allah memuliakan kita dengan I’tikaf dibulan Ramadhan..

 

Apa sih I’tikaf itu?

Secara bahasa I’tikaf di ambil dari kata عَكَفَ يَعْكُفُ عُكُوْفًا  artinya menahan diri atau berdiam diri. Kalo kita menilik dari arti menurut syariat, maka I’tikaf berarti,

Baca Juga  Petuah Mudik

لُزُوْمُ المُسْلِمِ المُمَيِّزِ مَسْجِدًا لِطَاعَةِ اللهِ عَزَّوَجَلَّ

“Berdiam diri seorang mslim yang sudah tamyiz didalam masjid dalam rangka ketaatan kepada Allah.”

Defenisi diatas senada dengan yang disebutkan dalam kitab Fiqhul Muyassar, hal 167.

Nah, Setelah kita mendudukkan masalah tentang pengertian maksud dari I’tikaf, baru kemudian kita beranjak ke pembahasan selanjutnya.

 

Ngapain aja saat I’tikaf?

I’tikaf bukan hanya sekedar berdiam diri aja, ok!. Ada banyak hal, amalan yang harus kita ketahui dan bisa diamalkan saat pelaksanaan I’tikaf…

Niat berdiam diri didalam masjid dalam rangka melakukan amalan-amalan ketaatan kepada Allah bisa dilakukan dengan beberapa hal berikut ini,

  1. Memperbanyak baca al-Quran
  2. Berdzikir
  3. Melakukan shalat, mulai dari sholat rawatib serta sholat-sholat sunnah lainnya
  4. Memperbanyak sedekah, atau
  5. Mendengar kajian-kajian asatidzah, seperti yang sering kita lihat pada I’tikaf-I’tikaf yang telah berlalu,,,

 

Oke guys, kemudian Siapa sih yang dibolehkan untuk melakukan I’tikaf? Nah, untuk pembahasan ini perlu kita bahas syarat-syarat seseorang yang diperbolehkan untuk melakukan I’tikaf, berikut beberapa penjelasan ulama seputar I’tikaf..

  1. Seorang muslim yang berakal
  2. Niat untuk I’tikaf
  3. I’tikaf dilakukan di Mesjid
  4. Agar masjid tempat I’tikaf itu digunakan untuk sholat berjama’ah
  5. Dan yang pasti, adalah suci dari najis dan hadast

 

Kapan Waktu yang tepat untuk I’tikaf?

Dianjurkan untuk memulai i’tikaf di malam tanggal 21 setelah magrib, kemudian mulai masuk ke tempat khusus (semacam tenda atau sekat) setelah subuh pagi harinya (tanggal 21 Ramadan).

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha; beliau mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Aku membuatkan tenda untuk beliau. Lalu beliau shalat subuh kemudian masuk ke tenda i’tikafnya.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

Baca Juga  Nina Bobo…

 

Dan berakhir setelah terbenam matahari pada hari terakhir Bulan Ramadhan…

 

Lebih jelasnya kita merujuk kepada pendapat Imam An Nawawi rahimahullah dalam kitab “Al Majmu” Jilid 6, halaman 475 beliau mengatakan, “Asy Syafi’i dan rekan-rekan beliau mengatakan, “Barangsiapa yang ingin mengikuti tuntunan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, maka hendaknya dia memasuki masjid sebelum matahari terbenam pada malam ke-21 agar dia tidak terluput (untuk memperoleh Lailat al-Qadr). Dan dia keluar dari masjid setelah terbenamnya matahari pada malam ‘Ied, baik bulan Ramadhan telah berakhir sempurna, atau tidak. Dan yang lebih afdhal, dia tetap tinggal di masjid (pada malam ‘Ied) sampai menunaikan shalat “Ied di masjid atau dia (tetap tinggal di masjid di malam ‘Ied) dan keluar dari masjid ketika hendak menuju tanah lapang untuk mengerjakan shalat ‘Ied, jika dia mengerjakannya disana.”

 

Pantangannya?

Nah, agar I’tikaf yang kita lakuakan menjad lebih berkualaitas, maka perlu kita perhatikan beberapa larangan saat I’tikaf berikut ini, Tidaka ada I’tikaf kecuali dengan berpuasa

  1. Tidak boleh keluar masjid kecuali keperluan yang sangat mendesak ,
  2. Tidak boleh menjenguk orang sakit dan menghadiri jenazah, karena jika ia keluar maka batallah I’tikaf nya,
  3. Orang yang beri’tikaf tidak boleh berhubungan intim baik diwaktu siang ataupun malam, dan
  4. Tidak melakukan hal-hal yang laghwi (perbuatan yang sia sia/tidak ada faedah).
Baca Juga  Birthday In Islam

 

Larangan diatas dikutip dari kitab Maushu’atul Manahi Asy Syar’iyyah fi Shohihin Sunnatin Nabawiyyah, karya Syeikh Salim bin ‘ied al-Hilali dengan penyesuaian dari penulis.

Semua larangan yang tersebut dalam point diatas, jika dilanggar maka akan membatalkan I’tikaf . kemudian ada 2 kriteria lagi yang juga membatalkan I’tikaf tapi tidak masuk dalam bab larangan, karena ini bersifat tidak diinginkan sendirinya, yaitu ; hilangnya akal (gila), keluarnya darah haid serta nifas.

 

Penghujung Lembaran

Sobat muda, jika kita ingin melihat kembali sejarah betapa kesungguh-sungguhan para Salaful Ummah sebelum kita, bagaimana mereka begitu sangat bersemangat dalam menyongsong tamu mulia ini, maka diantara mereka ada yang sampaii berdo’a selama enam bulan sebelum datangnya bulan Ramadhan agar dipertemukan mereka dengannya.

اللَّهُمَّ سَلِّمْنِيْ لِرَمَضَان وَسَلِّمْ لِيْ رَمَضَان وَتَسْلِمَةً مِنِّي مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, selamatkanlah aku agar bisa berjumpa dengan Ramadhan, selamatkanlah aku agar berhasil menjalani Ramadhan, dan terimalah amalku.” (Hilyatul Auliya’, juz 1, hlm. 420)

 

Maka sungguh kemuliaan bagi kita sebagai Ummat yang selalu didalam iringan sunnahnya, seperti dalam pepatah arab berikut ini..

فَإِنْ لَمْ تَكُنْ مِثْلَهُمْ فَتَشَبَّهُ بِهِمْ، فَإِنَّ التَّشَبُّهَ بِالرِّجَالِ فَلاَحٌ وَنَجاحٌ

“Jika engkau belum mampu seperti mereka, maka tirulah perbuatan mereka. Karena meniru merupakan sebuah kemenangan dan kesuksesan”

 

Keep Your Spirit sob….!!!

Hidupkan bulan Ramadhan kita dengan amalan-amalan kebaikan, terutama adalah I’tikaf pada akhir bulan Ramadhan.

Wallahu ta’ala a’lam

 

Cikarang,10 Mei 2015

About the author

Salamuna.id

Salamuna.id adalah portal media bagi para Mahasiswa Muslim Indonesia yang sedang menempuh pendidikannya di berbagai negara.

Add Comment

Click here to post a comment