Fiqih For Teen Hamdani Aboe Syuja’

Birthday In Islam

Oleh: Aboe Syuja’

Sobat muda, coba letakkan gelasmu sejenak…

Perhatikan fenomena berikut ini! Ato mungkin kamu salah satu pelakunya… (^-^)

Bagi sebagian kamu, saat ulang tahun tiba. Teman-temanmu pada rame-rame mengucapkan happy birthday (HBD) untukmu. Saat kamu mulai membuka jendela pacebo-ok, terlihat seabrek pemberitahuan menantimu, ternyata semuanya tulisan ucapan HBD dari teman-temanmu, terlepas itu semua teman yang kamu kenal atau pun tidak. Tak alpa juga, sms dan tlfon dari teman-temanmu membuat rame suara deringan hp mu.

Bahkan tanpa kamu ketahui, ada orang yang menunggu hari ulang tahunmu sampai jam 12 malam dan tiba-tiba dari daun pintu rumahmu terdengar ada suara yang mengetuk, saat kamu buka ternyata si doi yang sudah siap dengan kue ultah dan dipasang lilin-lilin di sekitarnya, kamu terkaget sesaat, tapi setelah itu rasa kagetmu pun berubah menjadi kebahagiaan yang tak terhingga, seakan-akan malam itu menjadi malam milikmu.

Sungguh betapa bahagianya dirimu… (^-^).

Itu hanyalah prolog singkat saat menjelang hari ulang tahun sobat muda saat ini.

Namun tahukah kamu sobat, ternyata peringatan ulang tahun yang sering sebagian kamu lakukan itu dan sudah merajalela bagi sebagian besar masyarakat kita saat ini, ternyata hal itu tidaklah di ajarkan dalam agama islam. Agama yang sudah sempurna ini.

Seperti yang sobat ketahui, dalam agama islam hanyalah ada 2 hari raya, yaitu hari raya idul fitri dan ‘idul adha. Adapun jika ada tambahan dari kedua hari raya itu, maka tidaklah ada dasarnya dalam syariat islam.

 

What is Ulang tahun?

Kalo kamu membuka kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), kamu akan mendapati kalimat Ulang tahun atau berulang tahun yang berarti merayakan (memperingati) hari lahir (karena terjadinya suatu peristiwa atau berdirinya suatu perkumpulan, dsb).

Baca Juga  Basmi Hamanya

So, bisa kita tarik kesimpulan bahwa ulang tahun berarti melakukan perayaan pada hari atau tanggal lahir seseorang dengan maksud untuk berbahagia dan mengharapkan dengan doa semoga tahun mendatang lebik baik dari sekarang atau sebagai rasa syukur kamu kepada yang telah memberikan nikmat umur, biasanya disebut dengan tasyakuran.

Namun, apakah islam memandang ini sebuah kebaikan bagi ummatnya? Yups, lanjut!

 

Kacamata Islam dalam ULTAH??

Para ulama dan pakar sejarah telah menjelaskan tentang kronologi duduk masalah seputar ulang tahun yang awal mulanya berasal dari eropa ini, mayoritas mereka berpendapat bahwa ulang tahun tidaklah benar dan tidak ada dalam syariat islam.

Islam hanya memiliki dua hari raya seperti yang kita jelaskan di atas, adapun jika ada penambahan, niscaya itu penambahan yang baru dalam syariat islam dan itu tidaklah berlandaskan islam, dalam kata lain mengikuti atau mengekor budaya luar islam. Adapun dalam masalah ini, maka telah jelas nashnya dari Rasulullah yang mengatakan dalam sabdanya,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut”

Begitu pula dengan mengucapkan selamat ulang tahun, sama halnya dengan melakukan ulang tahun. Why? Ya, karena ikut andil dalam meramaikan acara tersebut. Dan ikut andil mengandung unsur kesengajaan dalam masalah tersebut, dalam Bahasa lain ia menyetujui peringatan hari ulang tahun tersebut.

Nah, Jalan terbaik adalah diam. Tidak melakukan ulang tahun dan tidak pula mengucapkan kalimat ulang tahun kepada orang yang merayakannya. Karena kita ingat pesan Rasulullah berikut ini,

Baca Juga  Petuah Mudik

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sobat, ingat kata bijak, “Jika kamu tidak bisa meredakan kejahatan/keburukan yang ada, maka jangan membuat kejahatan/keburukan yang lebih besar dari itu”. Mungkin, kalimat itu cocok untuk kita saat ini. (^-^)

 

ULTAH menurut Syaikh Utsaimin

Saat Syaikh Shalih Ibn Utsaimin, salah satu anggota kibar ulama Saudi ditanya mengenai hukum perayaan hari ulang tahun, maka inilah jawabannya, “Perayaan ulang tahun anak tidak lepas dari dua hal ; dianggap sebagai ibadah, atau hanya adat kebiasaan saja. Kalau dimaksudkan sebagai ibadah, maka hal itu termasuk bid’ah dalam agama Allah. Padahal peringatan dari amalan bid’ah dan penegasan bahwa dia termasuk sesat telah datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

“Artinya : Jauhilah perkara-perkara baru. Sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan berada dalam Neraka”. (HR.   )

Namun jika dimaksudkan sebagai adat kebiasaan saja, maka hal itu mengandung dua sisi larangan:

Pertama-Menjadikannya sebagai salah satu hari raya yang sebenarnya bukan merupakan hari raya (‘Ied). Tindakan ini berarti suatu kelalancangan terhadap Allah dan Rasul-Nya, dimana kita menetapkannya sebagai ‘Ied (hari raya) dalam Islam, padahal Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menjadikannya sebagai hari raya.

Saat memasuki kota Madinah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati dua hari raya yang digunakan kaum Anshar sebagai waktu bersenang-senang dan menganggapnya sebagai hari ‘Ied, maka beliau bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha”.

 

Baca Juga  About Sahur

Kedua-Adanya unsur tasyabbuh (menyerupai) dengan musuh-musuh Allah. Budaya ini bukan merupakan budaya kaum muslimin, namun warisan dari non muslim. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Artinya : Barangsiapa meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”.

Kemudian panjang umur bagi seseorang tidak selalu berbuah baik, kecuali kalau dihabiskan dalam menggapai keridhaan Allah dan ketaatan-Nya. Sebaik-baik orang adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sementara orang yang paling buruk adalah manusia yang panjang umurnya dan buruk amalanya.

Karena itulah, sebagian ulama tidak menyukai do’a agar dikaruniakan umur panjang secara mutlak. Mereka kurang setuju dengan ungkapan : “Semoga Allah memanjangkan umurmu” kecuali dengan keterangan “Dalam ketaatanNya” atau “Dalam kebaikan” atau kalimat yang serupa. Alasannya umur panjang kadangkala tidak baik bagi yang bersangkutan, karena umur yang panjang jika disertai dengan amalan yang buruk -semoga Allah menjauhkan kita darinya- hanya akan membawa keburukan baginya, serta menambah siksaan dan malapetaka.” [Lihat: Fatawa Manarul Islam, Karya Syaikh Shalih Ibn Utsaimin,  1/43]

 

So, kesimpulannya memperingati hari ulang tahun tidaklah ada dasar dalam syariat beragama islam. Dan semuanya tidaklah ada dalam islam, sejak masa Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wasalla-, sahabat, tabi’in, tabiut tabiin. Itu semua bermula dari orang-orang barat dan eropa, padahal Nabi kita telah memperingati tentang hukum bertasyabbuh (mengikuti orang kafir.

Maka sebagai sobat muslim sejati, kita kudu memperhatikan dan menaati semua aturan yang ada dalam agama kita. Dan melanggar aturan tersebut merupakan jalan awal menuju gerbang kesesatan. ‘iaadzan billah minhu.

 

Cikarang, 30-Oktober-2014

Hamdani Aboe Syuja’

About the author

Salamuna.id

Salamuna.id adalah portal media bagi para Mahasiswa Muslim Indonesia yang sedang menempuh pendidikannya di berbagai negara.

Add Comment

Click here to post a comment