Abu Uyainah As-Sahaby Ruang Sakinah

Awalnya Kuragu Melangkah, Demi Cinta Kuharus Menikah

Sesuatu yang indah, didapatkanya pun harus melalui jalan terjal penuh lelah.Bisa ku lihat bagaimana perjuangan seorang ibu, ketika melahirkan seorang anak dari kandungan yang dibawanya selama sembilan bulan. Setelah genap sembilan bulan bayi yang dia bawa di dalam perutnya dengan penuh susah payah dan rasa lelah, dia pun harus mengeluarkan jabang bayi itu penuh pengorbanan, tak kalah lelahnya ketika dia masih membawa jabang bayi itu di dalam perutnya, karna bukan hanya kumpulan tenaga yang harus dia keluarkan demi sang bayi lahir dengan selamat, namun dia pun harus pertaruhkan nyawanya.

Hal demikian pun tidak ubahnya seperti perjuangan seorang Ayah, yang harus siap lelah demi mencari dan mendapatkan nafkah.Tidak peduli dengan betapa panasnya siang dan dinginnya malam.Tidak peduli dengan kucuran keringat yang mengalir di dahi seperti air hangat, bahkan dia pun jarang beristirahat demi anak-anak dan istrinya sehat wal afiat. Setelah ku melihat sebuah perjuangan panjang dan melelahkan dari keduanya demi sesuatu indah yang menjadi sebuah harapan di masa depan. Ketika itu aku mulai berfikir, ternyata untuk mendapatkan apa yang menjadi harapan tidaklah semudah yang dibayangkan. Ada jalan terjal yang menanti, ada duri yang siap menyapa kaki, ada debu-debu berterbangan yang akan menghiasi jalan-jalan yang akan kita lalui. Tidak ubahnya seperti perjuangan ibu dan Ayah demi seorang anak yang dibesarkannya dan masa depannya yang menanti.

Waktu itu awalnya aku ragu untuk melangkahkan kedua kakiku ini demi seseorang yang ku cintai dengan menikahinya. Aku ragu apakah aku akan diterimanya, diterima oleh keluarga dan kedua orang tuanya. Jika aku diterimanya, apakah ku mampu membuatnya bahagia, mampu menjaga amanah yang diberikan orang tuanya dengan direstuinya diriku menjadi kekasih anaknya.Apakah aku mampu menjaga bidadari yang keduanya besarkan penuh tenaga & pengorbanan, yang ku sendiri tidak pernah berperan membantu keduanya membesarkan anak gadisnya itu. Tapi setelah lebih dari 20 tahun keduanya membesarkan anak gadisnya tersebut, tiba-tiba ku datang lalu aku utarakan bahwa ingin meminangnya, menikahinya lalu membawanya ke rumahku yang tentunya dia harus meninggalkan rumah orang tuanya dan ikhlas aku boyong ke rumahku untuk menjadi bidadariku di sana.

Baca Juga  Mimpi Yang Menyapa

Ketika kedua kakiku ini sudah melangkah jauh sampai bertemu dengan orang tua & keluarga besarnya.Kedua mata ini pun menatap sosoknya dan berusaha meyakinkan hati bahwa dia benar-benar sosok yang layak dicintai, disayangi lalu dijadikan kekasih hati. Ada hal-hal yang orang tuanya tanyakan kepadaku waktu itu, “Kuliah dimana, Nak?”. “Sudah bekerja, Nak?”. “Berapa bersaudara, Nak?”.Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sudah biasa ditanyakan oleh orang tua si gadis ketika datang seorang pemuda ingin meminang & menikahi anak gadisnya. Ketika itu aku menjawab apa adanya, tidak ada yang ditambahi dan tidak ada yang dikurangi terlebih dibumbu-bumbuhi agar pinanganku diterima. Hanya tawakkal dan keimanan yang mantap bahwa Allah akan membantuku demi seorang yang aku cintai, yang mampu aku lakukan setelah menjawab pertanyaan mereka.

Suatu hal yang wajar ketika orang tuanya bertanya tentang pekerjaanku.Suatu hal yang bisa dimaklumi ketika orang tuanya bertanya tentang keluargaku.Karna maksud dari bertanya adalah ingin mengetahui sebuah jawaban yang mereka inginkan. Orang tua mana pun itu, pasti ingin mengetahui keadaan calon kekasih hati anaknya, hingga jangan sampai seorang anak yang dikandungnya, dibesarkannya dan didewasakannya, tak mendapatkan seorang laki-laki, seorang kekasih hati yang tidak bertanggung jawab atas anaknya. Namun akan terasa sangat tidak wajar dan berlebih-lebihan ketika pertanyaan yang diajukan pada diriku atau siapa pun itu, hanya ingin menyulitkanku dan membuatku putus asa hingga aku mundur dan mengurungkan niat baikku itu.

Baca Juga  Jangan Salahkan Aku Yang Mencintaimu, Salahkan Dirimu Yang Telah Membuatku Jatuh Cinta

Alhamdulillah, hal yang sangat ku syukuri waktu itu, ternyata pertanyaan yang ingin mereka ketahui jawabannya, adalah hanya karena mereka benar-benar ingin mengetahui tentang keadaanku, dimana aku dibesarkan, siapa kedua orang tuaku dan tak bermaksud sebaliknya.Sepertinya kedua orang tua calon kekasih hatiku memahami dengan baik hadits Nabi yang menyatakan, “Apabila datang pada kalian seseorang yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia (dengan anak Kalian).Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi) Dan kadar kebaikan seseorang pemuda itu bisa dilihat dari ketaatannya pada Allah, baktinya kepada kedua orang tunya, perhatiaannya kepada kewajibannya sebagai seorang hamba, seperti menjaga sholat wajib lima waktu, puasa di bulan Ramadhan. Dan juga rasa tanggung jawabnya sebagai seorang laki-laki ketika diamanahkan kepadanya wanita yang dijadikan istrinya. Itulah kadar dari kebaikan agama dan akhlak seorang pemuda yang Nabi maksudkan. Namun sebenarnya ketika pinanganku diterima kedua orang tuanya, ku masih tersipu malu dan hanya mampu berbaik sangka dan bertanya.Benarkah aku diterima karena sifat-sifat itu ada pada diriku atau mereka berharap aku benar-benar menjadi seperti itu, semoga demikian. Amin…

Semoga ku mampu menjaganya, mampu membahagiakannya, mampu mnuntunnya dalam kebaikan, mampu melindunginya dari keburukan. Karena aku sangat yakin, sebaik-baik seorang kekasih hati itu adalah yang mampu membawa kekasihnya kepada keridhoan Allah Ta’aala dan bukan kepada apa yang dimurkai-Nya. Dan andai aku boleh berpuisi, aku boleh menjujuri isi hati, aku ingin mengungkapkan kata-kata ini untuknya;

Baca Juga  Teringat Olehku Waktu Itu

Terlalu sulit engkau untuk aku lupakan…

Karena cinta di hatiku ini tidak mampu hilang…

Meski rintikan-rintikan hujan berusaha menahan…

Aku akan tetap paksa kedua kakiku ini berjalan…

Demi cinta yang tidak kuasa terbang…

Demi rasa sayang yang tak bisa dilenyapkan…

Dan mungkinkah aku mampu bahagia…

Jika seorang yang aku cinta tengah menderita…

Mungkinkah aku bisa tersenyum lega…

Jika seorang yang aku sayang terdiam tanpa kata…

Bagaimana pun, engkau berusaha jauhi aku…

Engkau mencoba untuk mendiamkan aku…

Aku akan tetap mencintai dirimu selalu…

Aku sudah tidak memperdulikan kemarahanmu…

Aku tidak hiraukan cemberut di wajah anggunmu…

Karena aku tetap setia menyayangimu selalu…

Ya Allah, aku mohon luluhkanlah…

Sebongkah hati yang tertimpa musibah…

Hati yang dimiliki hanyalah satu…

Aku mohon jangan sampai ia membatu…

Bantu aku untuk membuatnya mengerti…

Bahwa sosoknya di hati ini tak akan terganti…

Meski rintikan hujan berjatuhan tiada henti…

Cintaku untuknya akan selalu ada sampai di Surga nanti…

…………………………………………..

Demikian yang mampu aku tuliskan, tentang cinta yang tiap yang berjiwa merasakan, bahkan rintikan-rintikan hujan pun menyaksikan, atas apa yang terjadi di bawah langit kelam, atas apa yang dirasa oleh insan yang merasakan cinta dalam kehidupan. Dan semoga yang sedikit ini mampu menjadi bahan renungan, tentang cinta di hati kita harus diapakan, harus kemana dilangkahkan, agar benar-benar membawa keridhoan Allah Ta’ala dan bukan kemurkaan-Nya yang mengerikan.

 

Untaian Sederhana Ini Ditulis Oleh;

Muhammad Yusuf Abu Uyainah As-Sahaby

About the author

Salamuna.id

Salamuna.id adalah portal media bagi para Mahasiswa Muslim Indonesia yang sedang menempuh pendidikannya di berbagai negara.

Add Comment

Click here to post a comment