Asep Ridwan Taufiq Pena Emas

Aku Ingin Betaubat, Keutamaan dan Buahnya Taubat

“Aku Ingin Betaubat”

(Keutamaan Taubat dan Buahnya) Bag.1

 

Oleh: Asep Ridwan Taufiq

““Yaa Rabb, ampunilah dosa-dosa hamba.”

“Yaa Rabb, aku telah banyak menzhalimi diriku sendiri, jika  Engkau tidak mengampuniku, niscaya aku akan merugi.”

“Yaa Allah, Engkaulah Maha Pengampung lagi Maha Penyayang.”

Begitulah ungkapan seorang hamba kepada Rabbnya, dengan menghinakan diri di hadapanNya, diiringi dengan cucuran air mata, mengakui segala dosa yang telah dilakukannya.

Pada saat itulah, keadaan seorang hamba begitu dekat dengan Rabbnya. Dalam keadaan hati yang hancur, mengakui segala dosa yang telah dilakukan,  jujur di hadapan Sang penciptanya, ia ingin kembali kepada jalanNya.

Dosa, kesalahan, kekhilafan, atau apapun istilahnya, merupakan suatu keniscayaan bagi setiap insan. Akan tetapi orang yang cerdas adalah yang apabila ia melakukan kesalahan, kemudian segera kembali dan bertaubat kepada Allah – subhaanahu wa ta’aala-

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

)كل بنِي آدم خطاء، وخير الخطائين التوابون(

“Setiap anak Adam (manusia) pasti melakukan kesalahan, dan sebaik-baik dari mereka adalah yang bertaubat.” [1]

Pembaca sekalian. Taubat, adalah tema yang ingin penulis paparkan pada artikel kali ini. Melihat begitu pentingnya tema ini untuk dibahas.

Banyak perkataan-perkataan salaf yang menunjukkan tentang pentingnya bertaubat. Berikut beberapa perkataan mereka berkaitan dengan hal tersebut. [2]

 

 

 

“Duduklah bersama orang-orang yang taubat, karena yang demikian itu dapat melembutkan hati”

Umar bin Khattab –radhiyallahu ‘anhu-

“Saya heran dengan orang yang celaka, padahal ia memiliki kunci keselamatan.”

Beliau ditanya: “Apakah itu?” Beliau menjawab: “Istighfar (taubat)

Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu-

“Barangsiapa yang tidak bertaubat di sore dan pagi harinya, maka ia termasuk orang yang zhalim.”

Mujahid –rahimahullah-

 

Apa Itu Taubat?

 

Taubat merupakan bentuk penyesalan seorang hamba, karena telah melakukan kemaksiatan kepada Allah ta’aala , baik itu karena meninggalkan perintahNya, maupun mengerjakan laranganNya. Sehingga dengan penyesalannya tersebut, ia kembali kepada Allah dan bertekad untuk tidak melakukannya lagi.

 

Berkata Ibnu Qudamah –rahimahullah-  : “Taubat adalah sebuah penyesalan yang menimbulkan tekad dalam hati, dan dengan penyesalan itu seorang hamba menjadi tahu bahwa maksiat yang ia lakukan telah menghalangi antara dia dan kekasihnya (Allah).”  [3]

 

Agar taubat seorang hamba diterima, maka harus memenuhi syarat-syarat yang telah disusun oleh para ulama berdasarkan dalil-dalil yang terdapat dalam Alqur’an dan Assunnah [4], yaitu:

 

  1. Ikhlas semata-mata hanya karena Allah.
  2. Meninggalkan kemaksiatan tersebut secara keseluruhan. Jika perbuatan tersebut berhubungan dengan hak Allah, maka sang hamba hanya cukup bertaubat kepadaNya. Akan tetapi apabila perbuatan tersebut berhubungan dengan hak manusia, maka selain ia dituntut untuk bertaubat, ia juga dituntut untuk mengembalikan hak tersebut kepada yang bersangkutan.
  3. Bertekad untuk tidak kembali melakukannya lagi.
  4. Bertaubat sebelum habis waktunya (kesempatannya). Waktu yang dimaksud adalah sebelum sakaratul maut, atau matahari terbit dari arah barat (hari kiamat).

 

Keutamaan Taubat menurut Alqur’an

 

Sekiranya diperhatikan bacaan kita dalam Alqur’an, menghayatinya, dan mentadabburinya, niscaya akan kita dapatkan ayat-ayat yang menyebutkan keutaman-keutamaan taubat.

 

  1. Allah -Subhanahu wata’aala- telah memerintahkan hambanya untuk bertaubat,

Hal ini sebagaimana yang terdapat di beberapa ayat dalam alquran, di antaranya Allah –‘azza wa jalla- berfirman:

﴿وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ [5] 

“Dan memohon ampunlah kepada Allah, sesungguhnya Allah  Maha Pengampung lagi Maha Penyayang”

﴿ وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ [6]

“Dan memohon ampunlah kepada Rabbmu. Kemudian bertaubatlah kepadaNya”

  1. Allah -Subhanahu wata’aala- memuji orang-orang yang bertaubat.

 

﴿وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ [7]

“Dan mereka yang memohon ampunan (beristighfar) di waktu sahur.”

Sebelum ayat ini, Allah menyebutkan tentang keutaman yang diberikan kepada hamba-hambaNya yang bertakwa berupa surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, mereka diberikan pasangan (bidadari) yang suci dari keburukan zhahir dan batinnya, serta mereka mendapatkan keridhaan Allah -Subhanahu wata’aala-.

Kemudian pada ayat ini, Allah menjelaskan tentang sifat-sifat mereka yang mendapatkan keutamaan tersebut.  Di antaranya adalah mereka yang senantiasa memohon ampunan di waktu sahur.

Imam Ibnu Katsir berkata : “Ayat ini menujkukan keutamaan beristighfar di waktu sahur. Dan disebutkan bahwa Nabi Ya’qub tatkala berkata kepada anak-anaknya, bahwa ia akan memohonkan ampunan untuk mereka, ia mengkahirkannya hingga waktu sahur.” [8]

  1. Taubat merupakan sifat orang yang bertakwa.

 

﴿وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (136) [9]

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”

Imam Qurthubi –rahimahullah- berkata : “Para ulama kita telah menjelaskan bahwa taubat yang dimaksud adalah taubat yang benar-benar membuat hamba yang bertaubat berhenti dari perbuatan maksiatnya dan taubatnya itu tertanam dalam hatinya. Bukan  sekedar ucapan ‘astaghfirullah’ di lisan. Kalau hanya sekedar ucapan di lisan, dan dalam hatinya beniat untuk mengulangi perbuatannya lagi, maka pertaubatannya sendiri membutuhkan taubat…” [10]

  1. Allah – subhanahu wata’aala– Menerima Taubat HambaNya

Di antara keutamaan taubat dalam Alquran adalah bahwasannya Allah menerima taubat hambaNya.

Allah – subhanahu wata’ala– berfirman :

﴿وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا [11]

”Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ini merupakan janji Allah, sekaligus motivasi dan kabar gembira bagi hambaNya yang bertaubat. Maka jangan pernah putus harapan, meski telah melakukan dosa begitu banyak. Dan jangan pernah malu untuk bertaubat, karena  Allah bergembira terhadap  hambaNya yang mau bertaubat.

Bahkan dalam ayat lain, Allah ta’aala menyebutkan:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ[12]

“Katakanlah: Hai hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus  asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Seseungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

~bersambung…. (bag.2)

 

_________________________

[1]. Hadits riwayat Ibnu Majah no. 4251, dihasankan oleh Al-Albani.

[2]. sumber : situs web www.ahlalhdeeth.com (من أقوال السلف في الاستغفار).

[3]. Almughni, Ibnu Qudamah 14/192.

[4]. Dalil istiqra’. Yang dimaksud dengan istiqra adalah bentuk observasi para ulama dari referensi dalil-dalil yang ada untuk menarik sebuah konklusi hukum.

[5]. Surat Al-Baqarah, ayat : 199.

[6]. Surat Hud, ayat : 3.

[7]. Surat Al-Imran, ayat : 17.

[8]. Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 1, Hal. 434.

[9]. Surat Al-Imran, ayat : 133-136.

[10]. Tafsir Ibnu Qurthubi, Jilid 4, Hal. 100 dan setelahnya.

[11]. Surat Annisa, ayat : 110.

[12]. Surat Azzumar, ayat : 53.

 

About the author

Salamuna.id

Salamuna.id adalah portal media bagi para Mahasiswa Muslim Indonesia yang sedang menempuh pendidikannya di berbagai negara.

Add Comment

Click here to post a comment