Fiqih For Teen Hamdani Aboe Syuja’

About Sahur

“Nduk, bangun!! Sahur. Nanti keburu fajar…” Suara perhatian sang ibu di sepertiga malam terakhir, membangunkan anak kesayangannya..

“Aduuh, masih ngantuk bu ”

“Ga bu, aku ga mau sahur. Udah kenyang…”

Dan jawaban-jawaban serupa yang sering diucapkan kawula saat sang ibu membanguninya untuk sahur.

——————————

Sebentar lagi kita akan menyambut bulan Romadhan, yaitu bulan yang kita tunggu-tunggu dan ditunggu-tunggu oleh semua kaum muslimin di seluruh penjuru jagat raya ini. Bulan yang didalamnya disyariatkan ibadah puasa bagi seluruh kaum muslimin. Nah,pada edisi kali ini kakak akan mengupas sedikit seputar “sahur”. Karena mau tidak mau, suka tidak suka, setiap disebutkan kata puasa pasti tersemat dalamnya sahur.

Dahulu, kaum salaf sejak enam bulan menjelang bulan Ramadhan sudah bersiap-siap menyambutnya dan selalu melazimkan pada setiap doanya dengan,

))اللَّهُمَّ سَلِّمْنَا إِلىَ رَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لَنَا وَتَسْلِمِةً مِنَّا مُتَقَبَّلاً يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ((

“Ya Allah sampaikanlah kami kepada romadhan dansampaikanlah romadhan kepada kami dan muluskanlah bagi kami dengan terkabulnya wahai yang maha pengasih”(HR.            )

 

Apa Itu Sahur?

Dalam bahasa arab (السَّحُوْرُ) dengan menfathahkan huruf siin adalah benda yang digunakan untuk makan atau diminum diwaktu sahur (objek). Adapun (السُّحُوْرُ) dengan mendhommahkan hurufsiin adalah perbuatan makan sahur (predikat).(An-nihayah: 2/347)

 

Kenapa Harus Sahur?

lebih kurang ada dua jawaban untuk menjawab pertanyaan diatas,

Sahur merupakan pembeda dengan kaum yahudi.

Tidak dipungkiri lagi bahwa umat-umat sebelum kita juga memiliki syariat yang dibebankan kepada mereka, salah satunya adalah puasa. Namun yang membedakan antara puasa kita dengan puasa kaum yahudi adalah terletak pada pelaksanaan sahur. Orang-orang yahudi berpuasa, namun mereka tidak sahur.

Baca Juga  Awali Semuanya dengan Cinta

Dalam hal ini, Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

))إِنَّ فَصْلَ مَابَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلَ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّهْرِ((

“Sesungguhnya pembeda antara puasa kita dan puasa ahli kitab (yahudi dan nasrani) terdapat pada makan sahur” (HR. Bukhori no. 1923 dan Muslim no. 1095)

 

Ada udang dibalik balik batu. Ada keberkahan dibalik sahur.

Hal ini sebagaimana tersirat dalam hadist Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-,

))تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِيْ السَّحُوْرِ بَرَكَةٌ)) متفق عليه

“Makan sahurlah, karena dalam sahur itu terdapat keberkahan” (Muttafaqun ‘alaihi)

Al-hafidz Ibnu Hajar -rahimahullah- dalam kitabnya Fathul Baari : 4/166,  “Dan yang utama (dari tafsiran “Barokah” yang terdapat dalam hadits), sesungguhnya barokah dalam sahur dapat diperoleh dari beberapa aspek, yaitu :

– Mengikuti sunnah nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-

– Menyelisihi ahli kitab (yahudi dan nasrani,-pen),

– Menambah kemampuan untuk beribadah,

– Menambah semangat,

– Mencegah akhlak buruk yang timbul karena pengaruh lapar,

– Mendorong bersedekah terhadap orang yang meminta pada waktu sahur atau berkumpul bersama untuk sahur,

– Merupakan sebab untuk berdzikir pada waktu mustajab,

– Mendapatkan niat puasa, bagi orang yang lupa niat saat sebelum tidur”

 

Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Sahur?

Sob, disunnahkan untuk mengakhirkan sahur, tidak pada awal malam ataupun dipertengahan malam. Tapi, diakhir sepertiga malam terakhir. Sebagai contoh, kalau kamu sahur diawal malam, maka kamu akan menahan puasa lebih lama. Dan sebaliknya, kalau kamu sahur diakhir waktu, maka kamu akan menahan puasa lebih pendek dan lebih ringan. Kenapa? because more energy we earn more spirit we could be. Lebih banyak energi yang kita dapat, maka kita akan lebih bersemangat untuk berpuasa. Hal ini senada dengan apa yang di jelaskan oleh Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dalam kitabnya Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala zaadil mustaqni’ dalam bab Ash-shiyam hal. 43. Dalam hal ini Allah –subhanahu wata’ala- berfirman,

Baca Juga  Antara Busur dan Anak Panah

))وَكُلُوْاوَاشْرَبُوْا حَتىَّ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الفَجْرِ))البقرة: ١٨٧

“serta makan dan minumlah hingga nyata bagimu (perbedaan antara) benang putih dari benang hitam di waktu fajar” (Al-baqarah: 187)

Untuk lebih detail, Syaikh Abu Bakar Jabir Al-jazairi dalam kitabnya Minhaajul Muslim, hal. 242 mengenai waktu yang tepat untuk sahur : “sahur itu dimulai sejak pertengahan malam terakhir dan berakhir sebelum beberapa menit terbit fajar. Hal ini berdasarkan hadits Anas –radhiallahu ‘anhu-dari zaid bin Tsabit –radhiallahu ‘anhu-berkata :

تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلَاةِ. قُلْتُ : كَمْ كَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا؟ قَالَ خَمْسِيْنَ آيَةً

“Kami makan sahur bersama Rasulullah -shallallâhu ‘alaihi wa sallam-, kemudian bangkit untuk mengerjakan shalat. Saya (Anas bin Malik yang meriwayatkan dari Zaid,-pent.) berkata, ‘Berapa lama jarak antara keduanya (sahur dan adzan)?’ (Zaid) menjawab, ‘(Sepanjang pembacaan) lima puluh ayat.’.”(H.R.An-nasaai: 4/143)”

Fajar yang dimaksud disini adalah fajar shodiq, yaitu terbitnya cahaya yang menyebar diufuk timur, semakin lama cahaya ini semakin terang sampai matahari terbit. Tidak seperti hal nya fajar kadzib, yaitu terangnya ufuk timur, yang beberapa menit kemudian diikuti kegelapan kembali.

Baca Juga  Hijab Today

 

Sunnah Diwaktu Sahur

  • Mengakhirkan sahur.

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لاَيَزَالُ النَّاسَ فِيْ الخَيْرِ مَاعَجَّلُوْا الفِطْرِ وَأَخَّرُوْا السَّحُوْرِ

 “Ummatku akan selalu dalam kebaikan selsama mereka menyegerakan ifthor (buka puasa) dan mengakhirkan makan sahur” (HR. Bukhari, bab Ash-shaum: 1957)

  • Makan sahur dengan kurma/tamar.

نِعْمَ السَّحُوْر المُؤْمِن التَّمْر -أخرجه أبوداود

“Sebaik-baik sahur seorang mukmin adalah dengan kurma” (HR. Abu Dawud)

Tamar adalah jenis kurma kering, baik itu dibiarkan kering ditangkai ataupun dipetik kemudian dijemur. Tidak seperti balah yaitu kurma muda, atau ajwa yaitu kurma yang biasanya dibiarkan kering ditangkainya. Kalaupun tidak memiliki kurma karena kesulitan mendapatkannya, maka cukup dengan makanan yang yang biasa kita makan untuk sahur. Adapun jika tidak memiliki sesuatu untuk dimakan, maka cukup dengan seteguk air putih demi makan sahur. Karena pada sahur terdapat begitu banyak keberkahan.

 

Akhir Kata

So, bagi sobat fata setelah mengetahui beberapa hal mengenai sahur, supaya selalu intensif dalam melaksanakan sahur. Karena banyak barokah yang terdapat didalamnya. Sahur, walau hanya seteguk air atau sesuap nasi. As long as the opportunity there is. Selama masih ada kesempatan, marilah kita menyemarakkan romadhan ini dengan tabungan amal sebanyak-banyaknya. Wallahu a’la wa a’lam wa a’azza wa ahkam.

 

[1] Dimuat di majalah elfata, edisi 7 vol. 13 tahun 2013

About the author

Salamuna.id

Salamuna.id adalah portal media bagi para Mahasiswa Muslim Indonesia yang sedang menempuh pendidikannya di berbagai negara.

Add Comment

Click here to post a comment